Aku terpikir, kalo naik motor harus hati-hati. Mengingat ada satu hari penting yang akan dihadapi.
Sehari sebelumnya..
Aku terpikir, gimana ya cara jatuh yang benar. Maunya ya ga jatuh, tapi kalo kejadian, gimana triknya biar ga mengalami collateral damage, hehe, lebay...
15 menit sebelumnya..
Ups... terlalu ngebut (speedometer dah menunjuk ke angka 100km/jam). Kurangi ah.. Kata Mas Uud, "Kalo mau aman berkendaraan, kecepatan maksimum 60km/jam."
Saat jarum speedo sedang berjuang mencapai angka 60..
GUBRAK!!! Werrr... (bunyi roda muter. Kalo sepeda jatuh nabrak sesuatu rodanya kan muter. Tapi ini motor, rodanya muter juga ga ya waktu itu?)
Begitulah...
Telah terkapar seorang pengendara honda beat orange di sebuah pertigaan jalan dengan posisi tengkurap. Hehe, kalo diingat rasanya posisi itu rada menggelitik perut.
Cuman kalo ingat waktu jatuhnya, ngeriiiiiii.....
Selang satu menit setelah kejadian jatuh..
Para pengendara yang lain menolong menyingkirkan si pengendara malang dari tengah jalan agar tidak menghalangi arus kendaraan yang lalu lalang.
"Cepat buka helmnya!" komando seorang bapak.
"Ga apa-apa bu?" tanya yang lain sambil membuka helm.
Sementara seorang lagi, laki-laki, dengan sigap membuka penutup hidung si pengendara yang notabene bergender perempuan. Cie.. cie.. Disinilah adegan romantis terjadi saudara-saudara. Mereka seperti Fahri dan Aisyah waktu merit (tokoh-tokoh dalam cerita "Ayat-ayat Cinta), hehe.Bedanya, ga ada wajah yang bersemu merah karena malu, tapi wajah meringis karena menahan sakit.
Hhhh... Si Aisyah teoteblung itu adalah saya, ima. Sementara Fahri palsu seorang pemuda berseragam oranye khas pegawai fabrikasi minyak di sebuah pulau di Kepulauan Riau. Sampe sekarang si fahri palsu tidak diketahui identitasnya siapa. Kalo jodoh ga kemana, halaaaaaah... Ga penting..
Kenapa kecelakaan terjadi? Istilah jawanya, ala piye... ala piye... (Bener kagak ya?)
Padahal sebelum berangkat, saya baca doa keluar rumah dan ayat kursi tiga kali dulu. Cuman, keterusan baca doa sebelum tidur, hehe. Biasanya gitu siy klo mo bobo, ayat kursi dulu..
OH!!! Mungkin gara-gara doa sebelum tidur itu kali ya???
Setelah memastikan saya ga luka parah, kerumunan bapak-bapak yang baik hati pada bubar jalan. Oia, ada adegan perpisahan yang tak terperi. Fahri palsu juga ikutan ngacir pergi.
"Fahri kerja dulu ya Aisyah.." kira-kira begitu mungkin di pikirannya. Hyehehe.
Tinggallah saya dan orang yang terpaksa saya tabrak. Ada kejadian lucu lagi berawal dari dialog dua orang yang nabrak dan ditabrak.
Nah, si orang satu ni (cowok) ngotot minta ganti rugi. Loh apa ga kebalik? Yang salah siapa? Orang dia motong jalur saya. Terang aja saya marah sekalipun sedang puyeng akibat dagu kebentur waktu jatuh.
"Eh, jangan macem-macem. Satu macem aja saya dah males liatnya. Saya jatuh kan gara-gara kamu. Kamu kagak kenapa-napa. Kok justru saya yang ganti? It's not per!" sungut saya.
"Yawdah! Kalo mo yang per, kita urusan sama polisi!" ancam cowok itu.
"Huh! Kamu orang mana siy?" saya mencoba mengalihkan pembicaraan. Skalian cari aman, hehe..
"Saya baru datang dari Jakarta."
"Ya sud. Kamu tunggu di sini dulu ya... Btw, tadi rencananya mo kemana?" tanya saya basa-basi.
"Lah, kamu sendiri mo kemana?" si cowok malah balik nanya.
"Mo pergi kerja."
"Saya juga. Jam 9 masuk."
"Saya jam 8."
"Lah, sekarang dah jam 8," si cowok heran dan berpikiran jangan-kangan nih cewek bo'ong.
"Dah bilang bos klo kecelakaan. Jadi gemana neh? Saya luka-luka, kamu kagak."
"Saya ga punya uang, masih pengangguran," Loh? Tadi bilang mo kerja jam 9.
"Lagipula, saya minta ganti rugi motor ini bukan punya saya." sambung cowok tersebut.
"Plis deh. Kamu yang salah kok saya yang ganti rugi? Saya sakit-sakit neh. Harusnya kamu yang ganti rugi. Belom motor saya juga sempat jatoh. Ga mungkin baek-baek aja ntu motor."
"Lo kau yang nabrak dari belakang!" si cowok mulai main kasar.
"Haloooo... Saya di jalur saya, kamu yang motong. Dimana-mana kamulah yang salah!"
"Ok, kalo gitu. Kita pake polisi aja!" ancam si cowok.
"Okeh.. Siapa takut?" balasku ga kalah pede.
"Saya punya teman polisi. Saya panggil ya.." katanya sambil mencet sembarang nomor di hapenya.
"Saya juga punya." sahutku ga mo kalah juga.
Hehe, jadinya pada gertak sambal. Padahal sama-sama takut kalo bawa-bawa ke polisi. Saya ga punya SIM! Hehe. Bandel, dah ga ada lisensi berkendara, ngebut pula.Tapi yang jelas saya ga bo'ong. Teman saya memang ada yang kerja di kepolisian. Tapi ga di Batam sini, hehe.. :p
Begitulah...
Setelah beberapa saat saling diem-dieman, si cowok sok tegar kemudian kabur setelah melempar salah satu helm kepunyaannya karena kesal.
Hikmah di balik cerita: sekalipun sakit, hingga jempol kaki kanan patah, tapi diberi kesempatan untuk beromantis ria. LOH! Bukan! Harusnya, kalo naik motor boleh ngebut, asal jangan nabrak. Caranya? Jangan ngebut! Hehe... Pusing? Oleskan balsem jangan minum obat. :p