Jumat, 2009 Juli 10

Mak Comblang


Huehehe...
Ayok kita bahas tentang tips memilih Mak Comblang! Ini cukup menarik bagi yang merasa tertarik. Terutama bagi yang ga pinter milih pasangan kaos kaki. Ups! Kaos kaki? Maksudnya?

Gini, ada yang bilang jodoh ibarat kaos kaki. Dia musti sepasang dan serasi. Makanya carilah orang yang kita rasa cocok itu bukan orang yang pertama kali kita temui. Hanya saja analogi ini agak jadi 'kontroversi' bila dianalogikan pada pencarian pasangan hidup.

Misalnya, ada seseorang yang mau pergi kerja. Kalo dah lewat pukul 7 pagi, dia bisa telat. Lima menit sebelum pukul 7, dia dah rapi. Tinggal masang kaos kaki. Di tangannya dah ada sebelah kaos kaki warna merah bergaris putih di atasnya dan bertulisan 'L.F.C." (hehe). Mana sebelahnya lagi ya? Duh, apa masih sempat nyari kaos kaki? Rencananya dia mau pergi kerja tanpa kaos kaki saja. Tapi, sayangnya dalam peraturan kantor ada pasal tentang pegawai harus mengenakan kaos kaki. Jadi, demi menjadi pegawai teladan, dimulailah usaha pencarian kaos kaki. Cari di ruang tamu, ketemu! Tapi warnanya belang kuning hitam Hull City, lempar! Ga cocok! Cari lagi! Eh, ada sesuatu di bawah meja! Bener, kaos kaki lagi! Cuman, warnanya biru Chelsea. Adduh, musti nyari ke mana lagi? Tunggu, sepertinya itu juga kaos kaki di samping tempat tidur. Huwee... Warnanya ijo Celtic. Padahal dia kan penggemar Liga Inggris, kenapa Liga Irlandia ada di rumahnya? Dilirik jam dinding. O-ow.. Satu menit menuju pukul 7. Akhirnya dia putuskan mengenakan kaos kaki mana aja walo ga cocok.

Nah, gitu juga kalo kita merasa di penghujung usia, tapi sang 'pujaan' tak kunjung datang jua. Jangan terburu-buru mengambil keputusan dialah orangnya. Karena kalo nikah karena usia, maka yang kita dapatkan adalah penyesalan pada akhirnya. Menikahlah karena mengharap ridha Allah. Mudah-mudahan diberkahi sepanjang usia.

Eits, udah melenceng jauuuuh sekali dari judul postingan kita. Baiklah, sebelum saya jabarkan tips-tips memilih mak comblang, kita perlu mendeskripsikan dulu, apakah yang dimaksud dengan mak comblang.
Mak Comblang adalah seseorang yang menjadi perantara kita dengan orang lain yang kemungkinan jodoh kita. Mak comblang bisa berasal dari pihak keluarga atau teman.

Mak comblang ini perlu dipilah-pilih dulu. Jangan ngasal. Karena, sesuatu yang asal-asalan di awal, akhirnya bakalan berantakan. Oleh karena itu, saya akan memberikan semacam tips bagi teman-teman yang berminat membaca postingan ini dalam memilih Mak Comblang:

1. Pilihlah orang yang kenal kita, kalau bisa kenal luar dalam
Hal ini bertujuan agar orang itu akan mencari orang yang cocok atau sepadan dengan kita. Bahkan kalau dia kenal kita banget, bisa jadi dia tau seperti apa tipe orang yang kita suka. Misalnya orang tua, kakak, adik juga bisa, murobbi, teman dekat, de el el.

2. Pilihlah orang yang lebih dewasa
Ini ga mutlak sih, hanya saja, orang yang lebih dewasa akan mampu memberikan solusi dari masalah non teknis yang terjadi saat ta'aruf/perkenalan.

3. Pilihlah orang yang udah merit
Biasanya, kalo yang nyomblangin masih belum nikah, alamat percomblangan bakalan kacau. Ini berdasarkan pengalaman pribadi, hehe. Dua kali ga jadi-jadi. Hiks.. Hiks...

4. Pilihlah mak comblang yang aktip dan produktip
Hehe, maksudnya, dia bisa antisipasi untuk nyari lagi kalo percomblangan gagal. Wah, ini mah keluarga. Kalo teman, berarti dia teman yang baik dan peduli... Terharu...

5. dan lain-lain
Maksudnya, mungkin yang baca bisa nambahin?

Demikianlah tips-tips urusan percomblangan. Kalo gagal, la tahzan, bukan jodohnya kali.
Kata orang, jodoh kan di tangan Allah. Tapi kalo ga diambil-ambil, selamanya dia akan tetap berada di tangan Allah. Tapi musti diperhatikan juga cara ngambilnya.
Jangan paksa Allah buat ngasih jodoh itu ke kita. Sama aja kalo ada orang yang minta-minta tapi maksa, kita jadi bete kan?
Cara yang terbaik adalah memohon dengan sepenuh hati. Kalo perlu pake cucuran air mata. Tapi jangan air mata buaya. Ini juga sama aja kalo ada anak kecil yang mewek minta permen. Biar tangisannya berhenti kita kasih permennya kan? Hehe...

Sabtu, 2009 Juni 27

Filosofi Jalanan #1

Ehem.. ehem...

Dah lama mau posting tentang ini.

Berhubung aku dah mulai menapaki jalanan dengan sahabat orange-ku, hehe, maka ada beberapa hal yang membuatku belajar tentang kehidupan lewat jalanan.

Tapi, satu per satu dulu sementara aku mengingat filosofi yang lainnya. Soalnya, otak ini seperti mulai dijangkiti oleh penyakit alzheimer tingkat rendah.

Baiklah, tanpa perlu memperpanjang mukaddimah, inilah dia...

Filosofi#1: Lelaki pake perhitungan, perempuan pake perasaan.

Hehe, ini bisa bener bisa salah. Tergantung laki-laki yang mana, perempuannya yang mana. Tapi pada umumnya, laki-laki lebih pintar menguasai medan jalanan daripada perempuan. Insting atau karena otak kiri mereka yang sering digunakan? Misalnya, kalo mau nyalip, mereka dah ngitung secara refleks saat nyalip yang tepat. Seberapa kecepatan yang bisa ditempuh dan mampukah tunggangan mereka melakukannya sudah secara otomatis, dikalkulasikan dengan cepat di otak mereka.

Sedangkan perempuan, cenderung merasa ga bakalan ada yang berani nyakitin dia. Jadi kalo dijalanan, perempuan itu kadang kurang berhati-hati. Mau nyalip, ga liat kiri kanan, dengan asumsi, ga bakalan ada orang yang berani nabrak gue, gue kan cewek.

Pernah kejadian, cewek yang mau motong jalan tapi ga liat kiri kanan. Akhirnya terjadi tabrakan. Dengan truk sayuran, syukur aja bukan tronton gandengan. Tapi tetep aja ga selamat dan akhirnya dimakamkan.


Photo taken from this site

Cumaaaa.... Ada satu kelemahan laki-laki. Mudah tersulut emosi. Kalo disalip merasa ditantang. Hehe, ada kejadian lucu tentang salip-salipan.

Suatu hari, aku berangkat dari Taman Raya (sebuah perumahan di Batam) ke Anggrek Sari (juga sebuah perumahan di Batam) lewat jalan besar. Berhubung rada sepi, aku pake kecepatan tinggi. Trus, ga sengaja nyalip bapak-bapak yang boncengan dengan temannya. Biasanya, orang kalo boncengan, kecepatannya sekitar 60-an km/jam (mengingat keselamatan teman). Mungkin sama boncengannya, dihasudlah sang rider. Beberapa saat kemudian mereka nyalip ima. Dan lagi, ga sengaja, ima berhasil nyusul dan nyalip lagi.

Begitulah kami saling salip menyalip selama beberapa menit hingga akhirnya sampai di persimpangan. Hubungan 'pertemanan' yang berlangsung singkat terpaksa dibubarkan. Berhubung ima belok kanan, mereka belok kiri. Hmmm... Kapan bisa ketemu sama bapak-bapak 'lucu' itu lagi? (' ')

Deformasi

Begitulah...

Dua hari yang lalu, gigiku mulai berulah. Sepertinya, si gigi bungsu udah mulai besar, tapi ga tau mau muncul dari arah mana. Akhirnya dia mendesak gigi tetangga. Arghh... Snut-snut 'bunyi'-nya (kalo beneran bisa bunyi, pasti berisik banget).

Dahulu kala, aku dah biasa sakit gigi dan ga pernah bengkak. Eh, pernah, coy! Sekali. Waktu kuliah. Yah, cuman itu aja. Dan itu pun ga bengkak-bengkak amat. Tapi yang sekarang. Wesss... Sabana gambuang! Tapi minimal bisa bikin orang senang. Habis, tiap kali liat wajah ima, mereka pasti ketawa.

Kalo di PCB (printed circuit board), itu... Macam motherboard, memory RAM.. Kalo anak elektro, kudu ngerti ini. Di PCB, ada istilah DELAMINATION. Artinya, permukaan PCB tidak rata akibat adanya moisture yang terperangkap di antara layer PCB. Bila PCB diberi perlakuan panas, misal reflow (salah satu metode untuk menyolder komponen ke PCB), maka moisture yang berbahan dasar air akan menguap. Sehingga PCB memiliki ruang hampa antara . Bila diraba, permukaan terasa kasar dan gembung.

Dan kondisi delamination ini, mirip dengan pipi kananku. GEMBUNG! Membuat wajahku mengalami temporary deformation dan mengubahnya jadi asimetris (minjem istilah Pak Wahyudi). Ugh! Wajahku yang panjang dan indah (halaaah, narsis) jadi bengkak sebelah. Mau dibilang gemukan, kok bagian kanan doang?

Tanggapan dari teman-teman PT:

Mbak Hanim/Dian: "Mba ilma, bagi-bagi dong permennya."

Pak Wahyudi: "Gyahahaha.... (sempat kehilangan kata-kata). Kamu jadi asimetris. (dilanjutkan dengan ketawa)"

Mas Andrias: "Ilma, kamu seperti menyembunyikan telur ayam aja di pipimu."

Aku: (meringis)

Kamis, 2009 Mei 21

Kaya atau Miskin Harta

Mana yang akan kamu pilih? Kaya atau miskin harta?

Kaya harta belum tentu bisa bahagia. Kecuali, si orang kaya ngerti harta yang ada padanya adalah titipan dan menjadi ujian dari Allah SWT.

Terlebih lagi setelah baca buku Mba Asma Nadia, Catatan Hati Seorang Istri, makin membuat aku yakin, harta sumber masalah. Hehe..

Soalnya, kebanyakan kisah yang ada di sana memberikan kesimpulan bahwa suami cenderung ingin selingkuh setelah ekonomi keluarga sudah stabil dan cenderung membaik.

Sinkron dengan pengakuan salah seorang temanku. Laki-laki, secakep apapun, seguanteng apapun, ga bakalan pede mendekati perempuan kalo KERE.

Benar atau betul? Wallahu 'alam.

Bukannya aku menentang poligami. Karena mengenai aturan poligami dah ada dalam Al Qur'an Suci.

Tapi mungkin karena sedikit trauma yang tersisa dari keputusan bapak untuk menikah lagi.

Hehe.. :D

Akibatnya, kalau ditanya, "Ima mau dimadu?"
Terus terang aku akan bilang, "Kalo boleh milih, aku pengen seperti Khadijah aja. Selama hidupnya ga pernah dimadu Rasulullah. Kalo nikah lagi boleh. Tapi ima-nya mati dulu, hehe."

Lagipula, pernah baca di milis FLP, kalo mengenal Allah, berarti mengenal makhlukNya, mengenal diri sendiri. Allah saja ga mau diduakan, dan mengklaim syirik adalah dosa paling besar. Kenapa? Karena Allah Maha Pencemburu.

Nah, di buku itu (Catatan Hati Seorang Istri) juga ada cerita tentang dua pasang suami istri yang pernikahannya tetap langgeng hingga dah jadi kakek nenek. Dan setelah dijelaskan lebih lanjut tentang kondisi kedua pasang kakek nenek tersebut, ternyata ada benang merahnya. Mereka sama-sama keluarga sederhana dan pas-pasan. Bahkan ada yang memiliki profesi sebagai pengemis.

Hal ini membuat aku berkesimpulan, hidup sederhana akan menyederhanakan pola pikir orang. Terutama laki-laki. Dia akan berpikir, "Kalo nikah lagi, mau dinafkahi pake apa? Satu aja ga beres gini.."

Hehe :D
Jadi pilih yang mana? Well, it's just a thougt..

Selasa, 2009 Mei 12

Tiga Kali

Dalam menciptakan sebuah benda, biasanya ada sebuah hal yang melatarbelakangi penciptaannya. Yaaa, miriplah dengan pembuatan skripsi atau karya ilmiah.
Mengapa kita ingin membuat benda atau apa pun lah itu namanya. Alasan-alasan ini dikemukakan di latarbelakang. Lalu tujuannya nanti untuk apa saja.. Hmmm... kok rada mirip latarbelakang ya? Tapi biasanya tujuan ini lebih kepada hasil. Betul ga ya? Anggap betul aja, kalo salah, anggap ima sok tau aja, hehe...
Trus, apa batasan dari benda yang akan diciptakan itu. Misalnya, benda ini kemampuannya hanya sampai segini saja.

Kemudian, dibuatlah langkah-langkah atau metode yang akan digunakan dalam pembuatan benda yang diingini itu. Dalam pembuatan langkah-langkah ini, dirumuskan juga tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selama proses pembuatan. Hal ini digunakan untuk antisipasi bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Setelah draft selesai, mega proyek dimulai. Selama proses pembuatan, perlu dirangkum kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Biar kalo mau bikin lagi dari awal udah diperbaiki atau setidaknya udah ada counterattack (halaaaah... emang game?) bila terjadi hal yang sama. Kalo proyek buesaaaaarrrr banget dan ngeluarin dana yang buanyaaaaaakk banget, biasanya bikin prototype dulu, untuk simulasi.

Lalu, jreng jreng jreng jreng, voila! Akhirnya, hasil akhir tercipta.

Tinggal dipake deh... Bila terjadi penyalahgunaan terhadap benda yang diciptakan, maka itu bukan tanggung jawab pembuat, tapi yang makai.

Contohnya aku.

Sudah dua minggu naek motor pulang pergi kerja. Tiga kali jatoh dari motor. Hehe. Kalo orang cemen pasti dah nyerah.
Kenapa bisa jatoh? Seperti yang telah diuraikan pada paragraf-paragraf di atas, penciptaan motor, bukan untuk pengendara yang beraliran R-O-K. Alias perempuan. Eh, tapi sekarang perempuan juga banyak pake celana ya? Yang jelas, saya pake rok. Gara-gara rok, kaki ini ga bisa menapak dengan baik dan benar di jalan. Musti jinjit. Padahal tinggi badan 163-an cm. Kaki juga panjang, tapi... Yah, nasib...

Apakah aku harus banting stir pake celana juga? Arghhh...!!!! Tidak mau!!!!

Baiklah, akan saya pikirkan bagaimana caranya. (Hehe, ini kalimat favoritku akhir-akhir ini)
Bagaimana caranya biar tetap bisa pake rok sambil berkendara roda dua.
Semangat!!!

Habis dah terbeli, ga mau jual lagi...
Blog-nya iLma